Sabtu, 31 Agustus 2013

Human Planet : Penguasa Padang Rumput



Tepung, beras, selai dan jagung, semuanya membentuk dan memberi kita makan. Dan padang rumput memberi makan hewan yang juga memberi makan pada kita juga. 

Dan padang rumput telah mengubah wajah planet kita dari padang rumput di Amerika sampai ladang padi di Cina. Namun ini tidak mudah, ini membutuhkan seluruh keberanian dan kecerdasan manusia untuk menjadi penguasa padang rumput. 


Didaerah savanna Kenya bagian selatan, ditempati oleh apsa dan teman-temannya. Disini rerumputan yang subur menyokong kawanan hewan terbesar di dunia. ini merupakan kesempatan yang besar bagi penduduk dorobo disini. Namun ada persaingan yang keras diantara semua hewan bercakar dan pemburu paling efisien didunia. 

Jadi bagaimana manusia biasa yang tidak memiliki taring atau cakar dan yang tidak bisa lari lebih cepat seperti cheetah bisa mencari makan disini
Mereka menggunakan akal dan bekerja sama dengan tim. Mereka bergerak. Percaya diri adalah segalanya disini. ini adalah pertarungan hidup dan mati. Tiba-tiba para singa mundur. Pemburu menggunakan otak bukan otot untuk mengusir pesaing mereka yang kuat.
Di Kalahari, terdapat padang rumput yang lebih kering menyokong hewan jauh lebih sedikit. Tidak ada makan siang gratis disini. Orang-orang yang menetap disana harus berupaya untuk memperoleh makanan berupa hewan buruan.  Busur dan panah mereka terlalu kecil untuk langsung membunuh, jadi mereka mengakali senjata mereka.  Kung sang ahli sangat tahu pasti dimana menemukan racun. Didalam tempurung pasir keras ini adalah kumbang, kalau satu tetes cairan kumbang masuk kedalam luka terkecil, itu akan membunuhnya. Jadi dia mengurapi panahnya dengan sangat hati-hati. 

Namun mangsa mereka juga cerdik, jadi mereka membangun persembunyian mereka dari rumput. Itu adalah penyergapan.  Kung ingin agar muridnya mendapatkan rusa pertamanya. Pendengaran dan mata hewan buruan mereka yang tajam berarti mereka harus bergerak dengan perlahan dan tanpa terlihat.  Jika mereka terlihat, maka kesempatan itu hilang.  Dua hari kemudian, manusia semak masih berada dalam persembunyian mereka. 

Namun jika suatu saat datang seekor leopard atau singa, maka para pemburu beresiko menjadi yang diburu. Rahang leopard memikili kekuatan untuk menghancurkan tengkorak manusia.  Mereka berdoa agar leopard tidak melihat mereka.  Muridnya berbaring didalam bayangan. Kali ini mereka tidak terdeteksi. Hari keenam dalam persembunyian, seekor rusa mendekat. Mereka memiliki satu kesempatan untuk mengarahkan busur mereka.   


Mereka pun melepaskan panah mereka dan tepat ! rusa berlarian. Rusa yang terluka akan berlari beberapa kilometer dan racun akan bekerja didalam tubuhnya. Pengejaran dimulai. 

Tanah penuh dengan jejak kuku. Dari sini semua soal melacak. Keputusan yang salah berarti pengejaran yang sia-sia. Setelah sepuluh jam, akhirnya mereka menyusul kudu (rusa). Racun telah melemahkannya. Setelah tujuh hari, muridnya akhirnya membunuh kudu pertamanya. Sekarang ada satu lagi orang didunia yang bisa melakukan ini. Daging yang akan mereka bawa pulang akan memberi makan seluruh desanya. Dan setiap bagian dari hewan itu akan digunakan.


Padang rumput dengan tetesan pertama air hujan, mereka beregenerasi.  Dan dimana hujan menyulut banjir, rumput bertumbuh menyamai kecepatan air yang meningkat. Diseluruh dunia, banyak padang rumput mengalami perubahan musim ekstrim membawa kesempatan baru tapi juga bahaya yang mengintai. 


Di Kamboja, padang rumput Tonle Sap terjadi banjir dan untuk beberapa minggu ini  ada banyak yang bisa diambil. Penduduk kesini untuk menangkap hasil dari padang rumput ini yang terbenam air. Tapi bukan ikan yang diinginkannya, tapi ular. Ular air. Mengetahui ular mana yang bisa ditangkap berarti keselamatan.  Jika mereka menangkap cobra, maka bisa nya dapat membunuh mereka.   
Seluruh keluarga Pana (penduduk setempat) harus bisa menangangi ular. Tangkapan Pana ditujukan untuk pasar ular terbesar didunia. Lebih dari enam juta ular berpindah tangan dalam hitungan minggu. 

Namun bertahan hidup dipadang rumput tidak semuanya soal berburu.   

Di Afrika timur, kaum Maasai telah belajar bagaimana berkolaborasi dengan burung liar untuk mendapatkan buruan mereka yang hanya bisa didapatkan kalau mereka bekerjasama.  Laitatu besiul untuk menarik burung hanggai. Itu adalah burung yang dinamakan dengan tepat. Hanggai menjawab siulan mereka dengan panggilan yang hanya digunakan pada manusia. Dia memulai mengikuti permainan tuntunan hanggai. Karena hanggai hanya bisa mencium makanan yang mereka incar. Saat dia dekat pada hadiahnya, dia mengubah panggilannya dan memberi tahu mereka apakah mereka sudah dekat.  Anak-anak mendapatkan hadiahnya sebuah sarang lebah dan pekerjaan si burung sudah selesai. Sekarang mereka harus memenuhi perjanjian mereka, mengeluarkan madu nya. Tersembunyi jauh didalam pohon dan dijaga oleh ratusan lebah Afrika yang marah. Mereka menggunakan asap untuk menenangkan mereka.  Namun itu tidak membuat sengatannya berkurang sakitnya. 

Anak-anak tahu bahwa mereka harus membayar pemandunya, sebagian sarang lebah dengan makanan tambahan. Ini adalah rekanan yang sempurna. Tapi seperti yang diketahui anak-anak Maasai, kalau anda tidak memberi Hanggai hadiahnya, selanjutnya dia akan menuntunmu ke sarang singa. 

Jadi kita sudah tahu bagaimana mencari makanan dipadang rumput liar, mencari sendiri atau dengan sedikit bantuan dari yang lain. Namun penguasaan kita atas padang rumput membutuhkan lompatan besar kedepan saat kita belajar bagaimana memanfaatkan rumput itu sendiri. 


Gandum, jagung dan padi semua memulai kehidupan sebagai rumput liar yang kita tumbuhkan sebagai tanaman. Ini memungkinkan kita memberi makan jutaan orang setiap tahunnya, dan oleh karena itu kita menetap dan membangun rumah disamping ladang kita.
Ladang buatan manusia sangat menarik bagi banyak hewan yang kita sebut hama. Di dataran Afrika, pembunuh sereal ini datang dalam ukuran wabah. Aisa yang tinggal di Tanzania, panen padinya tinggal beberapa hari tapi dia tahu serangan udara mendekat.  Dia harus waspada lalu siap untuk suara yang ia takutkan. Suaranya datang terlebih dahulu. Kemudian kelompok pendahulu, diikuti kawanan. Mereka adalah pellet. Mereka datang dalam jumlah jutaan. Mereka adalah spesies yang lapar akan padi-padian. Aisa dan para tetangganya harus mencegah pellet itu turun, kalau tidak maka kawanan itu akan  menghabiskan tanaman mereka dalam satu jam. Ini bukan pertempuran yang bisa mereka menangkan. Ini adalah cara membatasi kerugiannya. 

Kawanan bermigrasi itu tidak pernah diam.  Namun mereka memang punya kelemahan. Untuk berkembang biak, pellet mesti bermukim. Mereka membuat sarang dalam koloni yang sempit. Ini kesempatan petani untuk menyerang balik. Sementara sebagian besar kawanan pergi mencari makan, jebakan mematikan dipasang. Saat senja saat burung-burung tersebut kembali, boom (ledakan). Sejauh ini kita satu langkah didepan dalam perlombaan melawan hama. 

Dan kemampuan kita dalam memanipulasi padang rumput mulai dari kekuatan ke kekuatan. Kita telah memperbesar padang rumput buatan manusia ini. Mengukir pegunungan, menebang hutan dan mendesain ulang permukaan planet kita.  Tujuh rerumputan memberi makan hampir tujuh milliard orang. Mereka menyuplai tiga perempat karbohidrat, roti dan pasta, bakmi dan bubur kita. 

Dataran sereal yang besar ini membuat padang rumput liar termasuk habitat yang paling terancam punah. Namun berada dipadang rumput liar untuk penggembalaan kawanan hewan yang banyak, kita meraih kemenangan terbesar kita untuk menaklukkan hewan-hewan ini untuk kebutuhan kita. 

Mengendalikan sebuah tanaman adalah satu hal. Tapi mendominasi sebuah mahkluk dengan kehendak bebasnya membutuhkan tingkat manipulasi yang jauh lebih tinggi. 

Padang rumput Mongolia adalah yang terbesar di Bumi. Disini terdapat lebih banyak kuda liar berkeliaran dibandingkan ditempat lain didunia. Kemampuan suku Mongolia untuk menjinakkan kuda membuat Nomaden ini penguasa padang rumput. Nenek moyangnya Genghis Khan menggunakan kuda untuk membangun kerajaannya, tapi hari ini Ulanaa (penduduk Mongolia) mempunyai tantangan yang berbeda. Mereka harus mengunakan kecepatan kuda mereka untuk menangkap kuda betina liar untuk diambil susu nya. Kuda betina ini tidak menyerahkan susu mereka dengan mudah. Mereka harus dikelabui. Kesuksesannya akan tergantung dengan kemitraan total dengan kuda tunggangannya. Setelah dua jam akhirnya tali kekang dipasangnya untuk kuda yang baru ditangkapinya. Dan itu kali pertama kuda itu merasakan sentuhan tangan manusia. Mereka pun punya kesempatan untuk memeras susu buat keluarganya. Namun suku Mongolia lebih suka susu dengan rasa alcohol. Inovasi mereka adalah dengan membuat ferementasi susu ini menjadi aerat, yogurt yang sedikit beralkohol. Bakteri yogurt membuat makanan musim panas mereka menjadi lebih bernutrisi. 

Tanpa menyakiti hewan mereka, keluarga Ulanaa bisa hidup dari mereka dari tahun ke tahun, mengubah kebaikan rumput menjadi yogurt. Namun mengikat kehidupan mereka pada padang rumput, mereka menjadi kaum nomaden mengikuti kawanan ke padang rumput yang segar dengan mengikuti hewan mereka karena menurut mereka hewan itu memiliki insting untuk hal demikian. 

Dalam budaya lain, kita telah membuat penguasaan ini selangkah lebih jauh, menjinakkan dan mengembangbiakkan kawanan liar, membuat mereka diam dan mudah ditangani. 


Di sabanna Afrika para gembala menjaga ternak mereka tetap dekat. Mereka sekarang dimiliki dan seperti pemilik property dimanapun, mereka akan melindunginya. seperti halnya di Mongolia, di Australia penduduk mengembangbiakkan kuda sebagai teman berburu mereka. 

Jadi kita telah belajar bagaimana menjadi penguasa padang rumput, menggunakan rumput itu sendiri menjadi makanan kita, mengubah rumput menjadi yogurt, dan memiliki dan mengembangbiakkan hewan pemakan rumput yang juga menjadi  menjadi makanan kita.